PROFIL PENGUSAHA
SUKSES
OLEH:
ALAMUDDIN SAHPUTRA
171201011
HUT 2A
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2018
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah
ini dengan baik dan tepat waktu.
Makalah
ini berjudul “Profil Pengusaha Sukses" pada mata kuliah
Kewirausahaan dengan lancar. Adapun
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan, memaparkan
berbagai hal yang berkaitan dengan profil pengusaha sukses sehingga dapat
membantu para mahasiswa dalam mengetahui tentang bagaimana menjadi pengusaha
sukses, serta memenuhi tugas yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing mata
kuliah Kewirausahaan Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. Penulis menyadari masih terdapat kesalahan dalam
penulisan makalah ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penulisan makalah
ini. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat dan dapat merealisasikan
ilmu yang ada dilaporan ini.
Medan, Juni 2018
Alamuddin Sahputra
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang Kehidupan
Nama juragan
durian asal Medan itu Zainal Abidin Chaniago. Atau, biasanya orang memanggil
Ucok Durian. Apa halnya panggilannya jadi begitu. Karena dia adalah putra asli
Medan, putra Batak. Berkat dia pula buah durian lokal tak sekedar menjadi
hiasan. Dia sukses menjual aneka durian utuh. Itulah sebab adanya embel- embel
nama durian di belakang namanya. Sebelum setenar sekarang perlu kamu tau
perjalanan hidupnya tak mudah. Sejak usia 14 tahun, terlahir dikeluarga yang
kekurangan. Membuat Ucok terbiasa mencari uang sendiri. Memulai usaha dari nol
sejak belasan tahun. Lantaran orang tua miskin membuatnya tak punya uang
membayar sekolah. Pendidikan terakhir Ucok mentok dikelas 2 SMP.
Ayah hanyalah tukang becak. Dan ibu
membantu ekonomi keluarga menjadi buruh cuci. Itu masih tak cukup membiayai
Ucok dan lima adiknya. Ia memutuskan usaha sendiri. Memutuskan mandiri mencari
uang sendiri, mencoba ikut membantu ekonomi keluarga. Di masa awal, Ucok
bekerja menjadi karyawan di gerai penjualan buah durian di Kota Medan. Tak
sekedar bekerja juga aktif belajar tentak seluk- beluknya. Bertahun- tahun
bekerja di tempat orang, hasrat membuka usaha sendiri akhirnya tersalurkan. Modal
Rp1,75 juta ditambah pengalaman dan pengetahuan soal durian.
Ucok memberanikan diri membuka
bisnis sendiri. Uang tersebut digunakan membeli durian sebanyak setengah mobil
bak. Lantas dijajakan di pinggiran jalan. Umur 24 tahun sudah punya usaha
sendiri. Sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan. Jikalau durian sisa
dan tak habis maka langsung dijualkan ke pasar. Untung jualan pertama cukup
lumayan omzetnya Rp.300.000. Omzet tiga ratus ribu per- hari dibaginya menjadi
tiga. Pertama dibagikan ke teman sekaligus mitra bisnisnya. Lalu uang Rp.50.000
diberikan kepada keluarga. Sembari berbisnis, tak lupa belajar mengenai si buah
durian ini. Caranya lewat menyambangi petani durian di berbagai tempat. Bahkan
sampai ke Aceh cuma buat durian. Dedikasinya akan durian membawanya ke pusat
durian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, seluruh Pulau Sumatra. Lambat laun
kegiatannya itu membuahkan jaringan bisnis.
Koneksinya ke para petani durian
semakin kental dan kuat saja. Modal saling percaya digunakan oleh pria yang
sekarang sudah berumur 45 tahun ini. Modal PD -nya atau percaya dirinya berani
membeli durian lebih mahal. Dia menawarkan harga lebih mahal dari pedagang
lain. Selain itu ketika ada petani membutuhkan uang karena kebutuhan mendesak
Ucok selalu ada disana untuk membantu petani yang sangat membutuhkan uang
tersebut.
2. Awal Mula Usaha
Asal mula pria Minang
bernama lengkap Zainal Abidin Chaniago itu disapa Ucok, panggilan buat para
lelaki dalam kultur Batak. “Saya mulai usaha dagang durian 30 tahun lalu di
emperan kantor di kawasan Pasar Peringgan, Jalan Iskandar Muda, Medan. Saya
berjualan durian malam hari. Di kawasan
itu banyak orang yang mengais rezeki malam-malam, ada tukang durian, tambal ban, semir sepatu, mi aceh, dan lainnya,” kata Zainal yang mengaku tamatan SMP.
itu banyak orang yang mengais rezeki malam-malam, ada tukang durian, tambal ban, semir sepatu, mi aceh, dan lainnya,” kata Zainal yang mengaku tamatan SMP.
Sebutan Ucok yang identik dirinya bermula dari sapaan yang
lazim diungkapkan orang Medan. “Orang-orang yang berjualan juga disapa ucok.
Jadi, ada ucok tukang tambal ban dan ucok tukang semir sepatu. Karena saya
tukang durian, saya dipanggil Ucok Durian,” kenang Zainal yang kini sukses
menjadikan usahanya berjajar dengan penanda kuliner Medan lainnya, seperti bika
ambon, kopi, dan teri medan.
Zainal membuat gerai durian menjadi layaknya sebuah restoran
khas durian. Sebuah bangunan besar di Jalan Sei Wampu Medan dibeli Zainal dengan
meminjam uang Rp800 juta dari Bank Mandiri dan Bank BNI. Lokasi usaha itu
didesain agar menjadi tempat makan durian, juga jajanan lainnya, yang
representatif. Cat bangunan bernuansa kuning hijau khas Melayu menjadi penanda
tokonya. Kedai Ucok memang bisa dibilang cukup berumur, sudah puluhan tahun.
Meski demikian, namanya baru tenar dalam hitungan 10 tahun belakangan. Dulu,
Ucok juga merangkak dari bawah, memulai berjualan durian dari kaki lima. Jangan
dilihat kondisi sekarang. Buat memastikan pelanggan yang datang langsung maupun
pembeli durian dalam kemasan terlayani dengan baik, Zainal mempekerjakan 20
karyawan yang bergiliran bertugas selama 24 jam. Bermitra dengan petani Untuk
menjaga pasokan, Zainal intens menjaga komunikasi dengan para pemilik kebun
durian dari seluruh pelosok Sumatra, yang jadi mitranya. “Kalau di Sumatra
Utara durian sedang kosong, biasanya saya cari di Riau, Sumatra Barat, bahkan
sampai Lampung sehingga kami tidak pernah kehabisan buah durian,” ungkapnya.
Kerja keras berpadu inovasi itu kini berbuah keuntungan yang
diraihnya sehari. “Sebulan penghasilan bersih saya rata-rata Rp 50 juta
Rupiah,”
ungkap Zainal. Pedagang adalah petani yang menjual hasil panennya dan pedagang biasa yang membeli durian dari kebun-kebun milik petani. Di sana, tugas Ucok adalah mengangkut durian.
ungkap Zainal. Pedagang adalah petani yang menjual hasil panennya dan pedagang biasa yang membeli durian dari kebun-kebun milik petani. Di sana, tugas Ucok adalah mengangkut durian.
Agar penghasilannya bertambah, ia tak hanya membantu satu
orang tetapi sekaligus banyak pedagang. “Satu hari bisa dapat Rp 2.500 sampai
Rp 10.000. Saat itu, uang segitu sudah besar dan bisa ditabung. Saya pikir
lumayan juga ya asyik jual durian untungnya pasti banyak, bisa lima kali lipat
yang saya dapat,” tutur Ucok tentang awal kepikiran berjualan durian sendiri.
Sejak itu, kesempatan jadi kuli angkut dimanfaatkan Ucok untuk sekalian
belajar. Pedagang-pedagang durian itu kerap mengajak Ucok keliling kampung
untuk mencari daerah mana yang sedang musim. Sampai akhirnya, pada 1990an, Ucok
mantap buka usaha.
Kedepan, model usaha durian lainnya tengah ia rancang. Ia
membeli sebidang tanah yang kemudian dia bangun untuk kemudian dijadikan
semacam lahan usaha terpadu. “Ada kafe dan toko yang semua produknya dari
durian. Ini baru rencana saja, tapi konsepnya sudah di kepala saya.
Saya tidak mau membuka konsepnya. Nanti malah ditiru orang
lain” katanya seraya tertawa. Kini Zainal mulai berupaya meneruskan tongkat
estafet usaha kepada anak-anaknya. “Dari tiga anak yang semua laki-laki, saya
menumpu harapan pada yang nomor dua dan tiga. Saya sedang meyakinkan kepada
anak-anak untuk meneruskan bisnis jualan durian ini.
PEMBAHASAN
Proses
Berdirinya Usaha
Ucok yang lahir dengan nama Zainal Abidin merupakan anak
kedua dari enam bersaudara. Ayahnya, Agus Mali (82), bekerja serabutan, tetapi
lebih sering sebagai kuli bangunan. Penghasilan Agus yang tak menentu memaksa
Ucok kecil harus menghentikan sekolahnya ketika dia hendak masuk SMP. Sebagai
anak lelaki tertua, dia terdorong untuk Mandiri.
Hari-harinya diisi dengan bekerja sebagai tukang angkut di Pasar Pringgan yang
hanya berjarak 500 meter dari rumahnya. Kadang dia menjadi juru parkir. Ucok
mendapatkan upah Rp 2.000 per hari. Di pasar inilah dia kerap dipanggil ”Ucok”
yang tenar sampai sekarang.
Merasa bosan dengan pekerjaan itu, Ucok menawarkan tenaganya
kepada para penjual durian di sepanjang Jalan Iskandar Muda. Pada tahun 1980-an
hingga awal 1990-an, puluhan petani menjual durian di Jalan Iskandar Muda
setiap musim durian tiba. Mereka duduk berderet sampai 500 meter di kanan kiri
jalan dengan hanya beralas tanah. Ucok pun bekerja mengangkut durian dengan upah Rp
10.000 per hari.
Juragannya kerap membawanya keliling kampung-kampung di
pelosok Sumatera Utara mencari durian untuk dijual lagi. Dari sini, Ucok mulai
hafal bulan musim durian di sejumlah daerah. Merasa punya jaringan dan
pengalaman, tahun 1995 Ucok mulai menjual sendiri durian yang dia ambil dari
tengkulak dengan sistem konsinyasi. Awalnya dia menjual 200 buah dan ludes.
Lalu meningkat hingga 1.000-an buah.
Tahun 1999, setelah menikahi Asni Koto, dia lebih semangat
lagi bekerja. Dia merasa perlu membeli mobil bak terbuka untuk usahanya. Seorang
rekannya meminjamkan modal untuk kredit mobil bak terbuka. Bersama seorang
rekan lainnya yang dia kenal lama di dunia durian, Ucok berburu sendiri durian
ke kampung-kampung di Sidikalang, salah satu sentra durian. ”Saat itu, saya
untung Rp 100.000. Sudah besar kala itu,” ujarnya. Ucok lazim membeli durian
sedikit lebih mahal dari pembeli lain. Durian yang Rp 5.000, dia beli Rp 5.500
per buah. Dia pun mulai dikenal di kalangan petani durian di seantero Sumatera
Utara. Biasanya, para petani menghubungi Ucok saat pohon duriannya baru
berbunga. Berarti, lima bulan lagi Ucok harus datang membeli.
Selain berhubungan langsung dengan petani, Ucok menjalin
hubungan baik dengan para tengkulak di sejumlah daerah, mulai dari Sidikalang,
Karo, Pematang Siantar, Langkat, Padang Sidimpuan, Deli Serdang, Serdang
Bedagai, Simalungun, sampai Pekan Baru (Riau). Mereka ikut membantu Ucok
memetakan waktu dan tempat durian siap panen.Bulan Maret sampai Mei bukanlah
musim durian. Saat itulah Ucok mengandalkan tengkulak dan petani. ”Dari
pengalaman, setiap hari ada durian matang, tinggal cari tempatnya. Itulah
gunanya kawan di kampung-kampung,” ujarnya.
Dengan pola ini, kedai Ucok tak pernah kosong durian.
Kedai-kedai lain mungkin tutup lantaran sedang tidak musim durian. Kedai Ucok
Durian ibarat musim durian sepanjang tahun. Untuk menjaring dan mempertahankan
pelanggan, Ucok menerapkan tips menarik: bila rasa buah tidak enak atau tak
sesuai selera, pembeli dipersilakan menukarnya. Tips ini banyak ditiru oleh
penjual durian di Medan.
Lantas, bagaimana nasib buah durian yang sudah telanjur
dibuka? Ucok menjalin kerja sama dengan pengusaha kue, es, dan makanan kecil
berbahan durian. Durian-durian tadi didistribusikan ke sana. Tidak ada yang
terbuang percuma. Pria berdarah campuran Padang dan Batak Mandailing ini pun
memahami kesulitan pembeli saat hendak membawa durian ke Jakarta atau kota
lainnya menggunakan pesawat terbang. Biasanya mereka membawanya dalam kondisi
bulat-bulat dengan dibungkus kardus. Ucok menyiasatinya dengan membuka isi
durian dan menaruhnya di dalam kotak plastik.
Untuk mengelabui aroma durian, dia membubuhinya dengan daun
pandan atau kopi dan membungkus rapat. Cara ini kini juga banyak ditiru penjual
durian lantaran lebih praktis. Pokoknya, di tangan Ucok buah durian sepertinya
tidak mengenal musim. Selalu tersedia sepanjang tahun.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Zainal
Abidin Chaniago. Atau, biasanya orang memanggil Ucok Durian. Sejak usia 14
tahun, terlahir dikeluarga yang kekurangan. Membuat Ucok terbiasa mencari uang
sendiri. Memulai usaha dari nol sejak belasan tahun. Lantaran orang tua miskin
membuatnya tak punya uang membayar sekolah. Pendidikan terakhir Ucok mentok
dikelas 2 SMP. Ucok menawarkan tenaganya kepada para
penjual durian di sepanjang Jalan Iskandar Muda. Pada tahun 1980-an hingga awal
1990-an, puluhan petani menjual durian di Jalan Iskandar Muda setiap musim
durian tiba. Lalu berkat kegigihan dan seta usaha dan rasa sabar maka dari itu
terbentuklah usaha Zainal tersendiri yaitu “Durian Ucok”.
Saran
-
Sebaiknya membuka cabang di setiap
daerah Kota atau Provinsi agar lebih berkembang usaha tersebut
-
Sebaiknya memperluas wilayah usaha
tersebut agar lebih di kenal masyarakat
-
Sebaiknya menambahkan pegawai tetap dan
lebih membuka lapangan perkerjaan kepada yang membutuhkan
-
Sebaiknya harga yang di tawarkan cukup
terjangkau agar bisa dibeli oleh seluruh kalangan masyarakat agar bisa
bersama-sama merasakan nikmat dari “Durian Ucok”.
REFRENSI
http://ceritasukseswirausaha.blogspot.com/2013/03/ucok-raja-durian-dari-medan.html
http://mediaindonesia.com/read/detail/50323-selalu-ada-pesta-di-ucok-durian
http://ceritamedan.com/2014/01/Ucok-Durian.html
https://ekonomi.kompas.com/read/2016/09/16/213500626/terungkap.rahasia.sukses.durian.ucok.medan

No comments:
Post a Comment