Wednesday, June 20, 2018

Tugas Kwirausahaan Profil Pengusaha Sukses Durian Ucok


PROFIL PENGUSAHA SUKSES














        
  
OLEH:
ALAMUDDIN SAHPUTRA
171201011
HUT 2A




PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018 





KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini berjudul Profil Pengusaha Sukses" pada mata kuliah Kewirausahaan dengan lancar.  Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan, memaparkan berbagai hal yang berkaitan dengan profil pengusaha sukses sehingga dapat membantu para mahasiswa dalam mengetahui tentang bagaimana menjadi pengusaha sukses, serta memenuhi tugas yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing mata kuliah Kewirausahaan Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. Penulis menyadari masih terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penulisan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat dan dapat merealisasikan ilmu yang ada dilaporan ini.




Medan,       Juni 2018  


                                                                                                                             Alamuddin Sahputra





BAB I 
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Kehidupan
                Nama juragan durian asal Medan itu Zainal Abidin Chaniago. Atau, biasanya orang memanggil Ucok Durian. Apa halnya panggilannya jadi begitu. Karena dia adalah putra asli Medan, putra Batak. Berkat dia pula buah durian lokal tak sekedar menjadi hiasan. Dia sukses menjual aneka durian utuh. Itulah sebab adanya embel- embel nama durian di belakang namanya. Sebelum setenar sekarang perlu kamu tau perjalanan hidupnya tak mudah. Sejak usia 14 tahun, terlahir dikeluarga yang kekurangan. Membuat Ucok terbiasa mencari uang sendiri. Memulai usaha dari nol sejak belasan tahun. Lantaran orang tua miskin membuatnya tak punya uang membayar sekolah. Pendidikan terakhir Ucok mentok dikelas 2 SMP.
Ayah hanyalah tukang becak. Dan ibu membantu ekonomi keluarga menjadi buruh cuci. Itu masih tak cukup membiayai Ucok dan lima adiknya. Ia memutuskan usaha sendiri. Memutuskan mandiri mencari uang sendiri, mencoba ikut membantu ekonomi keluarga. Di masa awal, Ucok bekerja menjadi karyawan di gerai penjualan buah durian di Kota Medan. Tak sekedar bekerja juga aktif belajar tentak seluk- beluknya. Bertahun- tahun bekerja di tempat orang, hasrat membuka usaha sendiri akhirnya tersalurkan. Modal Rp1,75 juta ditambah pengalaman dan pengetahuan soal durian.
Ucok memberanikan diri membuka bisnis sendiri. Uang tersebut digunakan membeli durian sebanyak setengah mobil bak. Lantas dijajakan di pinggiran jalan. Umur 24 tahun sudah punya usaha sendiri. Sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan. Jikalau durian sisa dan tak habis maka langsung dijualkan ke pasar. Untung jualan pertama cukup lumayan omzetnya Rp.300.000. Omzet tiga ratus ribu per- hari dibaginya menjadi tiga. Pertama dibagikan ke teman sekaligus mitra bisnisnya. Lalu uang Rp.50.000 diberikan kepada keluarga. Sembari berbisnis, tak lupa belajar mengenai si buah durian ini. Caranya lewat menyambangi petani durian di berbagai tempat. Bahkan sampai ke Aceh cuma buat durian. Dedikasinya akan durian membawanya ke pusat durian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, seluruh Pulau Sumatra. Lambat laun kegiatannya itu membuahkan jaringan bisnis.
Koneksinya ke para petani durian semakin kental dan kuat saja. Modal saling percaya digunakan oleh pria yang sekarang sudah berumur 45 tahun ini. Modal PD -nya atau percaya dirinya berani membeli durian lebih mahal. Dia menawarkan harga lebih mahal dari pedagang lain. Selain itu ketika ada petani membutuhkan uang karena kebutuhan mendesak Ucok selalu ada disana untuk membantu petani yang sangat membutuhkan uang tersebut.

2. Awal Mula Usaha
Asal mula pria Minang bernama lengkap Zainal Abidin Chaniago itu disapa Ucok, panggilan buat para lelaki dalam kultur Batak. “Saya mulai usaha dagang durian 30 tahun lalu di emperan kantor di kawasan Pasar Peringgan, Jalan Iskandar Muda, Medan. Saya berjualan durian malam hari. Di kawasan
itu banyak orang yang mengais rezeki malam-malam, ada tukang durian, tambal ban, semir sepatu, mi aceh, dan lainnya,” kata Zainal yang mengaku tamatan SMP.
Sebutan Ucok yang identik dirinya bermula dari sapaan yang lazim diungkapkan orang Medan. “Orang-orang yang berjualan juga disapa ucok. Jadi, ada ucok tukang tambal ban dan ucok tukang semir sepatu. Karena saya tukang durian, saya dipanggil Ucok Durian,” kenang Zainal yang kini sukses menjadikan usahanya berjajar dengan penanda kuliner Medan lainnya, seperti bika ambon, kopi, dan teri medan.
Zainal membuat gerai durian menjadi layaknya sebuah restoran khas durian. Sebuah bangunan besar di Jalan Sei Wampu Medan dibeli Zainal dengan meminjam uang Rp800 juta dari Bank Mandiri dan Bank BNI. Lokasi usaha itu didesain agar menjadi tempat makan durian, juga jajanan lainnya, yang representatif. Cat bangunan bernuansa kuning hijau khas Melayu menjadi penanda tokonya. Kedai Ucok memang bisa dibilang cukup berumur, sudah puluhan tahun. Meski demikian, namanya baru tenar dalam hitungan 10 tahun belakangan. Dulu, Ucok juga merangkak dari bawah, memulai berjualan durian dari kaki lima. Jangan dilihat kondisi sekarang. Buat memastikan pelanggan yang datang langsung maupun pembeli durian dalam kemasan terlayani dengan baik, Zainal mempekerjakan 20 karyawan yang bergiliran bertugas selama 24 jam. Bermitra dengan petani Untuk menjaga pasokan, Zainal intens menjaga komunikasi dengan para pemilik kebun durian dari seluruh pelosok Sumatra, yang jadi mitranya. “Kalau di Sumatra Utara durian sedang kosong, biasanya saya cari di Riau, Sumatra Barat, bahkan sampai Lampung sehingga kami tidak pernah kehabisan buah durian,” ungkapnya.
Kerja keras berpadu inovasi itu kini berbuah keuntungan yang diraihnya sehari. “Sebulan penghasilan bersih saya rata-rata Rp 50 juta Rupiah,”
ungkap Zainal. Pedagang adalah petani yang menjual hasil panennya dan pedagang biasa yang membeli durian dari kebun-kebun milik petani. Di sana, tugas Ucok adalah mengangkut durian.
Agar penghasilannya bertambah, ia tak hanya membantu satu orang tetapi sekaligus banyak pedagang. “Satu hari bisa dapat Rp 2.500 sampai Rp 10.000. Saat itu, uang segitu sudah besar dan bisa ditabung. Saya pikir lumayan juga ya asyik jual durian untungnya pasti banyak, bisa lima kali lipat yang saya dapat,” tutur Ucok tentang awal kepikiran berjualan durian sendiri. Sejak itu, kesempatan jadi kuli angkut dimanfaatkan Ucok untuk sekalian belajar. Pedagang-pedagang durian itu kerap mengajak Ucok keliling kampung untuk mencari daerah mana yang sedang musim. Sampai akhirnya, pada 1990an, Ucok mantap buka usaha.
Kedepan, model usaha durian lainnya tengah ia rancang. Ia membeli sebidang tanah yang kemudian dia bangun untuk kemudian dijadikan semacam lahan usaha terpadu. “Ada kafe dan toko yang semua produknya dari durian. Ini baru rencana saja, tapi konsepnya sudah di kepala saya.
Saya tidak mau membuka konsepnya. Nanti malah ditiru orang lain” katanya seraya tertawa. Kini Zainal mulai berupaya meneruskan tongkat estafet usaha kepada anak-anaknya. “Dari tiga anak yang semua laki-laki, saya menumpu harapan pada yang nomor dua dan tiga. Saya sedang meyakinkan kepada anak-anak untuk meneruskan bisnis jualan durian ini.




BAB II
PEMBAHASAN
Proses Berdirinya Usaha
Ucok yang lahir dengan nama Zainal Abidin merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya, Agus Mali (82), bekerja serabutan, tetapi lebih sering sebagai kuli bangunan. Penghasilan Agus yang tak menentu memaksa Ucok kecil harus menghentikan sekolahnya ketika dia hendak masuk SMP. Sebagai anak lelaki tertua, dia terdorong untuk Mandiri. Hari-harinya diisi dengan bekerja sebagai tukang angkut di Pasar Pringgan yang hanya berjarak 500 meter dari rumahnya. Kadang dia menjadi juru parkir. Ucok mendapatkan upah Rp 2.000 per hari. Di pasar inilah dia kerap dipanggil ”Ucok” yang tenar sampai sekarang.
Merasa bosan dengan pekerjaan itu, Ucok menawarkan tenaganya kepada para penjual durian di sepanjang Jalan Iskandar Muda. Pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an, puluhan petani menjual durian di Jalan Iskandar Muda setiap musim durian tiba. Mereka duduk berderet sampai 500 meter di kanan kiri jalan dengan hanya beralas tanah. Ucok pun bekerja mengangkut durian dengan upah Rp 10.000 per hari.
Juragannya kerap membawanya keliling kampung-kampung di pelosok Sumatera Utara mencari durian untuk dijual lagi. Dari sini, Ucok mulai hafal bulan musim durian di sejumlah daerah. Merasa punya jaringan dan pengalaman, tahun 1995 Ucok mulai menjual sendiri durian yang dia ambil dari tengkulak dengan sistem konsinyasi. Awalnya dia menjual 200 buah dan ludes. Lalu meningkat hingga 1.000-an buah.
Tahun 1999, setelah menikahi Asni Koto, dia lebih semangat lagi bekerja. Dia merasa perlu membeli mobil bak terbuka untuk usahanya. Seorang rekannya meminjamkan modal untuk kredit mobil bak terbuka. Bersama seorang rekan lainnya yang dia kenal lama di dunia durian, Ucok berburu sendiri durian ke kampung-kampung di Sidikalang, salah satu sentra durian. ”Saat itu, saya untung Rp 100.000. Sudah besar kala itu,” ujarnya. Ucok lazim membeli durian sedikit lebih mahal dari pembeli lain. Durian yang Rp 5.000, dia beli Rp 5.500 per buah. Dia pun mulai dikenal di kalangan petani durian di seantero Sumatera Utara. Biasanya, para petani menghubungi Ucok saat pohon duriannya baru berbunga. Berarti, lima bulan lagi Ucok harus datang membeli.
Selain berhubungan langsung dengan petani, Ucok menjalin hubungan baik dengan para tengkulak di sejumlah daerah, mulai dari Sidikalang, Karo, Pematang Siantar, Langkat, Padang Sidimpuan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Simalungun, sampai Pekan Baru (Riau). Mereka ikut membantu Ucok memetakan waktu dan tempat durian siap panen.Bulan Maret sampai Mei bukanlah musim durian. Saat itulah Ucok mengandalkan tengkulak dan petani. ”Dari pengalaman, setiap hari ada durian matang, tinggal cari tempatnya. Itulah gunanya kawan di kampung-kampung,” ujarnya.
Dengan pola ini, kedai Ucok tak pernah kosong durian. Kedai-kedai lain mungkin tutup lantaran sedang tidak musim durian. Kedai Ucok Durian ibarat musim durian sepanjang tahun. Untuk menjaring dan mempertahankan pelanggan, Ucok menerapkan tips menarik: bila rasa buah tidak enak atau tak sesuai selera, pembeli dipersilakan menukarnya. Tips ini banyak ditiru oleh penjual durian di Medan.
Lantas, bagaimana nasib buah durian yang sudah telanjur dibuka? Ucok menjalin kerja sama dengan pengusaha kue, es, dan makanan kecil berbahan durian. Durian-durian tadi didistribusikan ke sana. Tidak ada yang terbuang percuma. Pria berdarah campuran Padang dan Batak Mandailing ini pun memahami kesulitan pembeli saat hendak membawa durian ke Jakarta atau kota lainnya menggunakan pesawat terbang. Biasanya mereka membawanya dalam kondisi bulat-bulat dengan dibungkus kardus. Ucok menyiasatinya dengan membuka isi durian dan menaruhnya di dalam kotak plastik.
Untuk mengelabui aroma durian, dia membubuhinya dengan daun pandan atau kopi dan membungkus rapat. Cara ini kini juga banyak ditiru penjual durian lantaran lebih praktis. Pokoknya, di tangan Ucok buah durian sepertinya tidak mengenal musim. Selalu tersedia sepanjang tahun.









BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Zainal Abidin Chaniago. Atau, biasanya orang memanggil Ucok Durian. Sejak usia 14 tahun, terlahir dikeluarga yang kekurangan. Membuat Ucok terbiasa mencari uang sendiri. Memulai usaha dari nol sejak belasan tahun. Lantaran orang tua miskin membuatnya tak punya uang membayar sekolah. Pendidikan terakhir Ucok mentok dikelas 2 SMP. Ucok menawarkan tenaganya kepada para penjual durian di sepanjang Jalan Iskandar Muda. Pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an, puluhan petani menjual durian di Jalan Iskandar Muda setiap musim durian tiba. Lalu berkat kegigihan dan seta usaha dan rasa sabar maka dari itu terbentuklah usaha Zainal tersendiri yaitu “Durian Ucok”.

Saran
-          Sebaiknya membuka cabang di setiap daerah Kota atau Provinsi agar lebih berkembang usaha tersebut
-          Sebaiknya memperluas wilayah usaha tersebut agar lebih di kenal masyarakat
-          Sebaiknya menambahkan pegawai tetap dan lebih membuka lapangan perkerjaan kepada yang membutuhkan
-          Sebaiknya harga yang di tawarkan cukup terjangkau agar bisa dibeli oleh seluruh kalangan masyarakat agar bisa bersama-sama merasakan nikmat dari “Durian Ucok”.






REFRENSI
http://ceritasukseswirausaha.blogspot.com/2013/03/ucok-raja-durian-dari-medan.html
http://mediaindonesia.com/read/detail/50323-selalu-ada-pesta-di-ucok-durian

http://ceritamedan.com/2014/01/Ucok-Durian.html

https://ekonomi.kompas.com/read/2016/09/16/213500626/terungkap.rahasia.sukses.durian.ucok.medan